|
Ingin berpetualang melayang di ketinggian laksana burung di atas daratan? Bila Anda ingin mencobanya dan tak takut berada di ketinggian, olah raga yang satu ini bisa dijadikan hobi alternatif Anda. Paralayang atau paragliding adalah olah raga kedirgantaraan yang kini mulai berkembang, salah satu lokasi yang paling sering dijadikan arena latihan adalah di kawasan Puncak Pass. Paragliding alias paralayang merupakan permainan yang bisa dijadikan sebagai ajang uji nyali dan memacu adrenalin, karena Anda berada di ketinggian dan melayang-layang di bawa angin.
Menurut salah satu pendiri paralayang di Indonesia, Gendon Subandon, pada awalnya olah raga ini dikembangkan oleh para pendaki gunung. "Mereka suka naik gunung tapi pengennya cepat turun, jadi kalau mau cepat pakai parasut (terbang)," ujar salah satu pendiri Kelompok Terjun Gunung Merapi di Yogyakarta, yang berdiri Januari 1990. Beberapa tahun kemudian, olah raga ini pun makin digemari dan mulai banyak penggiatnya. Sehingga di tahun 1992, para penerbang paralayang membentuk wadah berskala nasional, yang disebut Pusat Paralayang Indonesia (PPI).Apa Yang Harus Dipelajari?
Menurut Gendon, belajar paralayang termasuk mudah dan dalam waktu singkat seseorang sudah bisa terbang sendiri. Selain sehat jasmani dan rohani, serta berat badan minimal 45 kg, maka Anda sudah bisa melayang-layang sendiri dengan paralayang. Bahkan saat ini sudah banyak klub yang menawarkan pelatihan singkatnya, yaitu hanya delapan hari saja. "Syaratnya siswa penerbang tidak boleh bolos dan harus belajar terus menerus," lanjut Gendon.
Selama pendidikan dasar, seorang penerbang pemula akan dibekali beragam teknik melayang dengan paralayang, seperti lepas. Dalam paralayang ada dua tipe lepas landas, yaitu alpine launch atau lompat lari yang biasa digunakan di negara-negara Eropa atau di lokasi peluncuran yang landai dan angin yang relatif kecil.
Cara kedua, reverse launch atau lompat balik yang dipakai saat angin berhembus kencang (sekitar 8 sampai 15 mph). Cara ini diterapkan pada lereng yang terlalu curam untuk digunakan berlari langsung.
Posisi pilot akan membelakangi angin yang berembus. Sebelum meluncur, parasut terlebih dahulu dikembangkan. Dalam hitungan detik, pilot akan memeriksa apakah sel-selnya telah terisi angin dengan sempurna, tali-tali parasut dan lainnya.
"Lompat balik bisa dilakukan sendiri, tapi jika angin terlalu kencang berembus, tetap butuh bantuan teman untuk memegang pilot,” tambah Gendon yang saat ini tercatat sebagai ketua bidang paralayang dalam Persatuan Olahraga Dirgantara Layang Gantung Indonesia, Federasi Aerosport Indonesia (FASI).
 Selain lepas landas, Anda juga harus menguasai manuver terbang dengan parasut. Ada beberapa manuver yang dikenal, seperti figure of eight, putaran 90 derajat, putaran 360 derajat, spiral dive (putaran menukik), big ears dan Bee line stall.
”Si siswa tadi harus bisa menguasai teknik bagaimana cara mengaktifkan teknik naik atau melayang, menurunkan ketinggian secara cepat, mengatasi kondisi angin kencang dan lainnya,” tambahnya.
Sebuah parasut paralayang terdiri dari dua permukaan paralel yang kuat dan saling dihubungkan dengan lembaran-lembaran vertikal. Bagian ini disebut ribs.
Pada ribs ada lubang yang disebut crossport. Fungsinya, penyeimbang tekanan dan memudahkan parasut mengembang. Ribs membagi tubuh parasut menjadi beberapa sel yang ditandai dengan dua tali yang menjulur di masing-masing sisinya.
"Setiap sel punya anak yang jumlahnya bisa satu, dua, tiga atau lebih, tergantung dari jenis parasut.”
Sisi depan yang merupakan pintu sel ada leading edge. Sisi belakangnya disebut trailing edge. Pada permukaan bawah parasut atau intrados terdapat tali-tali yang menjulur ke bawah. Gabungan dari tali-tali itu disebut riser. Dan riser inilah yang akan dihubungkan dengan harness.
Ada dua kelompok tali yang dihubungkan dengan stabilizer, namanya brake atau tali kemudi. Ujung dari tali kemudi dinamakan togel. Di tangan tali kemudi ini kontrol gerak parasut dan rem difungsikan.
Faktor utama lainnya, adalah parasut harus memperoleh angin dari depan (face lift) untuk bisa berkembang. Angin ini juga berfungsi saat mendarat. Arah angin dari muka menjadi krusial karena membantu parasut mengembang sempurna.
Ada dua tipe angin yang bisa membuat Anda melayang di udara, yaitu dynamic lift atau angin yang berembus dari daratan menuju bukit sehingga dipantulkan ke atas. Kedua, thermal lift, yaitu angin yang tercipta akibat pemanasan daratan oleh matahari sehingga menciptakan udara panas naik ke atas.
Bentuknya seperti spiral udara panas yang berputar menuju langit. Teorinya sama, pilot akan naik ke atas jika berada di bawahnya. Untuk mengetahui lokasi ini, pilot biasanya dibantu menggunakan alat variometer.
Selain angin, cuaca juga jadi faktor penentu, apakah pilot bisa mengudara atau tidak. Salah satu petunjuknya adalah melihat bentuk awan yang bisa menandakan baik buruknya cuaca.
Sehingga penerbang siswa harus mampu menaksir cuaca dan kecepatan angin. Menurut Gendon, kecepatan maksimum angin yang masih layak untuk terbang adalah 30 kilometer per jam.
”Tapi ini balik lagi ke masalah orangnya. Kalau saya sendiri sih enggak berani terbang kalau (kecepatan) angin sudah sampai segitu (30 kpj). Kalau masih 25 kpj ya masih bolehlah. Masalah lainnya, (bila angin kencang) kita juga harus dibantu orang lain.” (sumber: halohalo.co.id)
|