Skip to content
narrow screen wide screen auto screen Increase font size Decrease font size Default font size blue color orange color green color

Paralayang Indonesia

Mendaki dan Melayang di gunung Merapi PDF Cetak E-mail
Berita & Artikel

Apakah anda tau, kenapa burung selalu berkicau bernyanyi?? itu karena burung burung selalu senang terbang melayang, begitupun saya yang gemar dengan kegiatan terbang paralayang. Tanggal 15 agustus saya menerima telfon dari seorang teman di Solo, dia mengajak saya untuk terbang dari gunung Merapi pada saat hari kemerdekaan 17 agustus, tanpa pikir panjang saya langsung pesan tiket dari Jakarta menuju Jogjakarta, saya berangkat dengan pesawat pagi tanggal 16 agustus dan langsung menuju ke sekretariat KLM ( Komunitas Lereng Merapi ).

Saya sangat mempunyai ikatan yang kuat dengan Gunung Merapi, karena saat gunung Merapi meletus bulan oktober lalu, saya bergabung dengan KLM untuk ikut membantu warga sekitar lereng Merapi, selain itu juga saya berhasil menyelesaikan riset tugas akhir tentang Erupsi Merapi dan menyelesaikan sekolah saya pada ilmu komunikasi photojournalism di Ateneo De Manila University Philipina, dua bulan lebih saya berada disana dari mulai erupsi sampai saat pemulihan.

Bersama dengan sejumlah pilot Paralayang Jogja saya melakukan koordinasi dan persiapan untuk berangkat ke Selo Boyolali Jawa Tengah, dimana nantinya disana adalah tempat pertemuan kami dan tempat kami akan mulai pendakian ke gunung Merapi. Rencana penerbangan ini kami persiapkan dengan baik dengan dibantu dengan sejumlah warga yang juga sering membantu wisatawan untuk naik ke gunung, kami merancang skenario dengan baik, 11 pilot paralayang akan melakukan penerbangan dengan dibantu 14 porter yang membawa parashut, tenda dan bahan kebutuhan lainnya.

Pengarahan mengenai kondisi cuaca dan pemilihan tempat take off ( lepas landas ) - landing ( pendaratan ) kami lakukan dengan baik dengan arahan safety officer FASI ( Federasi Aero Sport Indonesia ) Capung Indrawan, dan dengan mengutamakan safety ( keselamatan ) kami sepakat bahwa ketika cuaca tidak mendukung kami tidak akan melakukan penerbangan.

Tepat jam 11.30 malam kami berangkat, kami mulai menanjak dari New Selo karena menurut informasi banyak pendaki yang naik dari sana, selain lebih cepat jalurnya pun mudah dan aman, dari hasil pantauan yang kami lakukan kondisi merapi relatif aman namun masih dalam status awas, dan malam itu kondisi cuaca sangat mendukung untuk pendakian. Malam itu tidak hanya kami saja yang naik karena momentum

hari kemerdekaan banyak juga yang ingin menikmati keindahan gunung Merapi, jalur yang saya lalui ternyata bagus, saya sempat berpikir apakah ada perubahan setelah erupsi lalu, karena erupsi Merapi tahun lalu merupakan erupsi terbesar, namun ternyata efeknya tidak terlalu besar disekitar wilayah selo, hanya saja pada saat itu abu merapi paling parah memang menutupi wilayah Selo dan Muntilan.

Sepanjang perjalanan saya bersyukur karena cuaca cerah sehingga terang bulan malam membuat kami dapat melihat puncak Merapi dari kejauhan, tinggi gunung Merapi 2,968 mdpl, wilayah gunung Merapi berada pada ketinggian antara 600 - 2.968 mdpl. Topografi kawasan mulai dari landai hingga berbukit dan bergunung-gunung. Di sebelah utara terdapat dataran tinggi yang menyempit di antara dua buah gunung, yakni Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di sekitar Kecamatan Selo, Boyolali.

Setelah tiga jam lebih akhirnya kami sampai juga di pasar Bubrah yang letaknya tepat dibawah puncak Merapi. Tempat itu biasanya di gunakan para pendaki untuk beristirahat, tidur ataupun memasak bekal, karena pasar Bubrah lokasinya sangat datar dan banyak bebatuan untuk sekedar bertahan dan bersandar dan bisa juga untuk mendirikan tenda sebelum persiapan menuju puncak Merapi.

Pasar Bubrah Merapi dahulu merupakan bekas kawah merapi ratusan tahun lalu yang telah mati. Dan ditengah pasar Bubrah berdiri lagi kawah baru yang sampai sekarang masih aktif, dengan puncaknya yang terkenal, Puncak Garuda, karena di sana ada batu berdiri kokoh membentuk seperti burung garuda lambang negara kita. Tetapi sekarang puncak garuda mulai runtuh perlahan karena aktifitas gunung, setibanya disini kami langsung disuguhkan kopi panas oleh porter, bagi saya yang memang bukan pendaki gunung waktu tiga jam untuk sampai disini adalah prestasi karena prediksi saya adalah sekitar lima jam saya akan tiba di pasar Bubrah.

 

Kondisi angin yang berhembus lumayan kencang membuat suhu udara sangat dingin sekali sampai mendekati 6 derajat celcius, kopi panas pun tidak butuh waktu lama untuk cepat dinggin, tidak berlama-lama diluar kami masuk ke dalam tenda dan masuk ke dalam kantong tidur, namun tetap saja dingin masih menusuk, namun saya tetap berusaha untuk memanfaatkan waktu istirahat yang singkat itu, karena pagi sekali kami harus segera take off. Suasana didalam tenda tidak terlalu dingin karena sebelas orang saling berdempetan bersama, saya tidak lagi berpikir posisi enak, yang penting adalah merebahkan badan.

Teriakan sahur pun terdengar, saat sahur sejumlah pilot melakukan sahur dengan nasi bungkus yang kami bawa dari bawah. Matahari mulai muncul kami segera melakukan persiapan, menikmati pagi yang indah di gunung Merapi merupakan sensasi yang luar biasa, terlebih lagi dengan degup jantung yang mulai terasa karena kami akan turun gunung dengan terbang Paralayang, sebenarnya cara ini adalah merupakan lazim dilakukan karena Paralayang merupakan kegiatan terjun dari gunung gunung dan banyak dilakukan diwilayah Eropa, sesaat sebelum lepas landas kami masih takjub berada di gunung paling aktif di dunia, hamparan batu dan pasir vulkanik mengelilingi kami, betapa besar keagungan Tuhan dan betapa besar kekuatannya.

Sebelum penerbangan kami melakukan briefing , analisa cuaca dan Berdoa, bersyukur pada Tuhan kami diberikan kondisi yang ideal untuk bisa lepas landas, kondisi angin konstan yang ideal sekitar 5-10 km/ jam dan langit biru menghiasi angkasa, saya berpikir ini akan menjadi penerbangan yang menarik dan sensasional, setelah berdoa dan memutuskan siapa yang akan takeoff pertama, kami langsung persiapan dengan dibantu porter. Peran serta porter sangat penting mereka membantu kami dengan baik, untuk informasi biaya porter yang mengangkut barang-barang kami sekitar Rp. 150.000,/orang, mereka sangat terlatih dan sangat mengenal kondisi Merapi dengan baik.

Adrenalin terasa setelah saya melihat rekan saya lepas landas, saya ada di posisi ke-tiga karena saya harus memotret, awalnya saya kesulitan untuk lepas landas karena tali tali parashut saya tersangkut di batu-batu, kondisi ini harus saya perhatikan dengan baik karena apabila tali itu putus maka saya tidak dapat melakukan penerbangan dan turun dengan berjalan kaki, dan saya tidak akan mau melakukan itu. Akhirnya saya beruntung bisa lepas landas kemudian akhirnya saya meluncur dan terbang, perasaan yang luar biasa saat saya melayang, semua mata pendaki tertuju pada kami yang terbang diangkasa dan melayang diantara gunung Merapi, sungguh indah dan menakjubkan itulah perasaan yang kami rasakan, saya langsung terbang menyisir sisi sisi gunung menikmati pemandangan yang Indah, disisi lain saya juga dapat menikmati indahnya gunung Merbabu, saya terbang diantara dua gunung dengan ketinggian 2,123 meter. Sungguh nikmat rasanya hembusan angin pagi membuat hari itu adalah hari yang indah dan penuh berkah, khususnya bagi rekan pilot yang sedang menjalani ibadah Puasa di hari itu yang merupakan hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Teriakan Merdeka dan bentangan bendera merah putih mewarnai angkasa, betapa kami bangganya dengan bangsa ini, kami bangga dan senang, banyak warga yang menyaksikan di tempat pendaratan, karena kami di ijinkan mendarat dilapangan Selo sebelum upacara Bendera 17 agustus dimulai, warga dengan antusias menyambut kami dan kami juga bahagia dapat menghibur warga dengan kegiatan kami ini, semoga kami akan terus melayang dan menikmati ciptaan Tuhan yang indah ini. Amin

 

" Didit Majalolo"