|
Kawasan Gunung Banyak ternyata masih menjadi lokasi favorit untuk latihan atlit paralayang. Tidak hanya dari Jawa Timur, atlit paralayang asal Jawa Tengah dan Kalimantan Timur pun berlatih di sana. Ini karena kondisinya yang memungkinkan untuk semua jenis terbang paralayang walaupun hujan mengguyur. Syamsul Hadi dan Bayu Krisna, dua atlit paralayang asal Jatim kemarin mengatakan, walaupun hujan, terbang paralayang masih tetap bisa dilakukan di Gunung Banyak. Ini berbeda dengan tempat terbang paralayang di Jawa Tengah dan Jawa Barat yang tak memungkinkan terbang saat hujan.  Untuk diketahui, di Jawa Tengah sebenarnya terdapat lokasi terbang layang di kawasan Wonogiri dan kawasan lain. Sedangkan di Jawa Barat, terdapat lokasi terbang layang seperti di Bogor dan Sumedang. Sedangkan di Gunung Banyak bisa digunakan untuk latihan paralayang setiap waktu karena kecepatan anginnya . “Kecepatan angin lokal di sini standar untuk paralayang, rata-rata kecepatan angin 5 km sampai 20 Km per jam,” jelas Syamsul Hadi saat ditemui di sela-sela latihan, kemarin siang. Bayu Krisna, menambahkan sekitar 98 persen dari semua jenis terbang para ayang bisa dilakukan di Gunung Banyak. “Tempat ini masih belum bisa dikalahkan tempat lain yang biasa digunakan untuk paralayang,” kata Bayu. Berbagai jenis latihan paralayang yang saat ini sedang dilakukan di Gunung Banyak diantaranya, ketepatan mendarat (KTM), CX atau cross country, speed glading atau kecepatan meluncur dan berbagai jenis latihan lainnya. “Secara umum, semua memungkinkan untuk latihan di sini,” katanya. Latihan paralayang yang digelar sepanjang hari itu dalam rangka menghadapi Kejurnas Paralayang Telkom Cup di Bogor, 18 sampai 19 April mendatang. Selain itu juga sebagai Puslatda Mandiri atlit paralayang untuk menghadapi PON 18 di Riau, 2012 mendatang.(van/han/malangpost) |
Paralayang 88 tanggal 8/8/2008 dan terbang 8 jam 8 menit 8 detikFoto dan teks : Didit Majalolo Bravo paralayang.. .," Teriakan itu terdengar di atas langit pantai Timbis, Nusa Dua Bali, Suara-suara para pilot paralayang, itu terdengar pula di radio panggil. Tepat pukul 14.10, sebanyak 88 penerbang paralayang pun memulai aksinya. Parasut berwarna-warni menghiasi langit pantai Nusa Dua. Rekor ini merupakan penerbangan terbanyak sepanjang sejarah paralayang nasional. Penerbang ini take off dari dua titik, yakni Bukit Timbis dan Gunung Payung, dengan ketinggian 75 meter di atas permukaan air laut itu, satu persatu penerbang take off dan bergabung membentuk formasi di udara dengan mengikuti instruksi dari sutradara yang berada di darat dan dari ketua kelompok yang ada di udara. |
|
Selanjutnya...
|
|
Ingin berpetualang melayang di ketinggian laksana burung di atas daratan? Bila Anda ingin mencobanya dan tak takut berada di ketinggian, olah raga yang satu ini bisa dijadikan hobi alternatif Anda. Paralayang atau paragliding adalah olah raga kedirgantaraan yang kini mulai berkembang, salah satu lokasi yang paling sering dijadikan arena latihan adalah di kawasan Puncak Pass. Paragliding alias paralayang merupakan permainan yang bisa dijadikan sebagai ajang uji nyali dan memacu adrenalin, karena Anda berada di ketinggian dan melayang-layang di bawa angin.
|
|
Selanjutnya...
|
|
1990 Paralayang mulai muncul di Indonesia ditandai dengan berdirinya Kelompok Terjun Gunung MERAPI di Yogyakarta pada bulan Januari 1990. Pada saat itu olahraga paralayang lebih dikenal dengan nama Terjun Gunung. Pendiri klub ini adalah Dudy Arief Wahyudi dan Gendon Subandono. Kedua orang tersebut belajar secara mandiri melalui manual dan majalah paralayang. Bukit-bukit pasir di Parangtritis menjadi tempat latihan awal olahraga ini. Parasut yang dipakai untuk pertama kali adalah tipe Drakkar produksi Parachute de France tahun 1987. Pada tahun ini pula David A Teak mulai merasakan nikmatnya terbang dengan paralayang.
|
|
Selanjutnya...
|
Sebuah Catatan Yang Terlupakan!
Keinginanku untuk terbang atau terjun sebenarnya sudah lama sekali. Sudah sejak SD aku sudah sering lihat orang terjun, makanya aku juga sangat ingin merasakan serunya terjun dari sebuah pesawat. Maklum masa kecilku smapai aku lulus SMA lebih banyak aku habiskan di Kota Magelang yang dulu terkenal sebagai pusatnya pendidikan tentara. Aku sendiri juga anak kolong, bapakku seorang perwira kesehatan di Batalyon Zipur IV Magelang. Jadi namanya kehidupan tentara, memang mersakan banget, apalagi aku selalu bertempat tinggal di kompleks tentara. Meskipun bapakku tentara ternyata aku sama sekali tak kepincut untuk jadi tentara.
|
|
Selanjutnya...
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 Berikutnya > Akhir >>
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |