|
There are no translations available.
Oleh : Dharmawan Sirin
Pertama kali Paralayang Indonesia mengikuti Kejuaraan Internasional adalah pada saat FASI mengirimkan Tim Aerosport untuk Mengikut World Air Games I Turkey 1997, tanggal 15 september – 21 September 1997 di kota Denizly Turkey, Tim Paralayang Indonesia Terdiri dari : 1. Lilik Darmono. 2. Agung Wicaksono (Alm). 3. Bima Putra. 4. Teguh Arif Wicaksana (Alm). Sayang hasil atau result yang dihasilkan oleh tim Paralayang Indonesia tidak terdata dengan baik, karena belum adanya sistem pe-rankingan seperti sistem WPRS (World Pilot Ranking Scheme) yang mulai digunakan pada awal tahun 2000. Result yang ada, seperti yang tertera di website ini : http://airsports.fai.org/jan98/jan9805.html
Data di peroleh dari CIVL World Ranking, yang menjadi acuan dalam ranking FAI, sebelumnya tercatat dengan menggunakan formula sistem ranking yang statis yang sejak tahun 2006 formulanya telah berubah menjadi sistem ranking seperti sekarang ini. (Tentang WPRS Formula)
|
|
Read more...
|
|
There are no translations available.
PURBALINGGA - Sebanyak 53 atlet paralayang dari seluruh Pengurus Propinsi (Pengprop) Federasi Aerosport Seluruh Indonesia (Fasi) se-Indonesia berlatih bersama di Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Wirasaba Purbalingga setahun yang lalu. Pada kegiatan itu, para atlet memperdalam teknik terbang dengan media towing, yakni alat dari mesin untuk menarik atlet saat take off).
“Biasanya, atlet melakukan take off (lepas landas) dari pegunungan. Dengan media towing, olah raga ini bisa dilakukan di lapangan udara atau landasan pacu di dataran rendah,” ujar Mayor AU dr Elisa Manueke.
Disebutkan dokter spesialis mata itu, latihan bersama di Lanud Wirasaba itu merupakan persiapan menghadapi Pekan Olah Raga Nasional (PON) yang diselenggarakan di Kaltim, Juli tahun lalu. Kegiatan itu sekaligus untuk memperkenalkan keberadaan media towing.
Perwira AU yang mengaku masih lajang (setahun yang lalu) itu menyebutkan, dengan media towing diperlukan tenaga tambahan sebagai master towing (penarik) dari masing-masing tim. 'Karenanya, masing-masing daerah harus memiliki master towing yang harus dilatih lebih dahulu,” ujarnya.
Menjawab pertanyaan, Elisa menyebutkan, lokasi Lanud Wirasaba Purbalingga sangat sangat memadai untuk untuk kegiatan olahraga paralayang dengan menggunakan towing. Dengan landasan pacu yang cukup panjang dan tiupan angin yang tidak terlalu kencang membuat olahraga ini sangat cocok dimainkan di lapangan ini.
Satu persatu atlet dari seluruh Indonesia itu berlatih terbang di Lanud Wirasaba. Mereka tampak akrab. Kendati, seperti yang dituturkan Elisa, para atlet yang saat itu berlatih bersama akan bersaing membela daerah masing-masing dalam perolehan medali.
”Latihan biasanya dilakukan secara rutin di Lanud Adi Sumarmo Solo. Di lokasi tersebut, panjang landasan pacunya sekitar 400 meter. Sementara di Lanud Wirasaba sekitar 850 meter,” ujarnya.
Pada waktu itu Komandan Lapangan Udara (Danlanud) Wirasaba, Mayor Adm Era Revianto menyatakan mendukung dan memfasilitasi kegiatan latihan bersama di pangkalan yang dipimpinnya. “Dengan menjadikan Lanud Wirasaba sebagai tempat latihan olahraga paralayang, keberadaan Lanud ini menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas. (sumber :www.purbalinggakab.go.idost/yit) |
|
There are no translations available. Atlet paralayang Jatim terpaksa harus merogoh kantong mereka sendiri untuk membiayai latihannya. Padahal, mereka harus mempersiapkan diri untuk Kejuaraan Nasional (Kejurnas) paralayang di Bogor, 18-19 April mendatang.
Wakil Sekretaris Pengprov Persatuan Olahraga Layang Gantung Indonesia (PLGI) Jatim, Arif Eko Wahyudi, mengatakan, paralayang tidak lagi ikut dalam Puslatda Jatim. Ini sebagai akibat paralayang gagal meraih emas saat di PON XVII di Kalimantan Timur.
“Karena itu Paralayang tak dibiayai KONI Jatim,” beber Arif Eko Wahyudi, disela latihan paralayang di lokasi pendaratan paralayang, Songgomaruto, Kecamatan Batu, Minggu (5/4). Tanpa adanya dana ini membuat para pengurus dan atlet harus mempersiapkan sendiri ongkos akomodasi untuk naik turun Gunung Banyak, Songgomaruto. Setiap atlet yang ingin berlatih serius, minimal harus urun uang Rp 100.000 untuk latihan.
“Itu belum makan dan biaya transportasi atlet dari luar kota. Tapi ini harus kami jalani untuk mengasah kemampuan dan persiapan Kejurnas. Target kami sekarang menarik perhatian KONI Jatim dengan menyumbangkan emas saat Kejurnas Paralayang,” pungkasnya.(sumber: surya.co.id/st11) |
|
There are no translations available.
Kawasan Gunung Banyak ternyata masih menjadi lokasi favorit untuk latihan atlit paralayang. Tidak hanya dari Jawa Timur, atlit paralayang asal Jawa Tengah dan Kalimantan Timur pun berlatih di sana. Ini karena kondisinya yang memungkinkan untuk semua jenis terbang paralayang walaupun hujan mengguyur. Syamsul Hadi dan Bayu Krisna, dua atlit paralayang asal Jatim kemarin mengatakan, walaupun hujan, terbang paralayang masih tetap bisa dilakukan di Gunung Banyak. Ini berbeda dengan tempat terbang paralayang di Jawa Tengah dan Jawa Barat yang tak memungkinkan terbang saat hujan.  Untuk diketahui, di Jawa Tengah sebenarnya terdapat lokasi terbang layang di kawasan Wonogiri dan kawasan lain. Sedangkan di Jawa Barat, terdapat lokasi terbang layang seperti di Bogor dan Sumedang. Sedangkan di Gunung Banyak bisa digunakan untuk latihan paralayang setiap waktu karena kecepatan anginnya . “Kecepatan angin lokal di sini standar untuk paralayang, rata-rata kecepatan angin 5 km sampai 20 Km per jam,” jelas Syamsul Hadi saat ditemui di sela-sela latihan, kemarin siang. Bayu Krisna, menambahkan sekitar 98 persen dari semua jenis terbang para ayang bisa dilakukan di Gunung Banyak. “Tempat ini masih belum bisa dikalahkan tempat lain yang biasa digunakan untuk paralayang,” kata Bayu. Berbagai jenis latihan paralayang yang saat ini sedang dilakukan di Gunung Banyak diantaranya, ketepatan mendarat (KTM), CX atau cross country, speed glading atau kecepatan meluncur dan berbagai jenis latihan lainnya. “Secara umum, semua memungkinkan untuk latihan di sini,” katanya. Latihan paralayang yang digelar sepanjang hari itu dalam rangka menghadapi Kejurnas Paralayang Telkom Cup di Bogor, 18 sampai 19 April mendatang. Selain itu juga sebagai Puslatda Mandiri atlit paralayang untuk menghadapi PON 18 di Riau, 2012 mendatang.(van/han/malangpost) |
|
There are no translations available.
Paralayang 88 tanggal 8/8/2008 dan terbang 8 jam 8 menit 8 detikFoto dan teks : Didit Majalolo Bravo paralayang.. .," Teriakan itu terdengar di atas langit pantai Timbis, Nusa Dua Bali, Suara-suara para pilot paralayang, itu terdengar pula di radio panggil. Tepat pukul 14.10, sebanyak 88 penerbang paralayang pun memulai aksinya. Parasut berwarna-warni menghiasi langit pantai Nusa Dua. Rekor ini merupakan penerbangan terbanyak sepanjang sejarah paralayang nasional. Penerbang ini take off dari dua titik, yakni Bukit Timbis dan Gunung Payung, dengan ketinggian 75 meter di atas permukaan air laut itu, satu persatu penerbang take off dan bergabung membentuk formasi di udara dengan mengikuti instruksi dari sutradara yang berada di darat dan dari ketua kelompok yang ada di udara. |
|
Read more...
|
|